ads

Inilah 4 Hal yang Pasti Ditanyakan Di Hari Kiamat, Sangupkah Kita Menjawabnya?

Kematian itu pasti. Azab kubur juga pasti. Surga dan neraka juga kepastian. Hari Kiamat adalah kebenaran. Hisab adalah ketentuan yang tak bisa dielakkan oleh siapa pun yang menjadi hamba-Nya. Kelak di Hari Kiamat, dua kaki kita tidak akan beranjak sedikit pun sebelum mendapatkan lima pertanyaan dan menyampaikan jawabannya.

ilustrasi neraka  sumber : ahkwatindonesia

1.UMUR

Untuk apakah kita memanfaatkan umur yang diberikan oleh Allah Ta’ala? Apakah kesibukan kita di setiap jenak adalah dzikir, shalat, membaca al-Qur’an, membayar zakat, membantu sesama, menepati janji, menunaikan hak orang lain yang ada dalam diri, atau kesibukan-kesibukan kebaikan lainnya?
Atau, sebaliknya; apakah setiap detik adalah dosa, tiap jenak adalah salah, maksiat dan keburukan-keburukan lainnya?
Apakah di kantor sibuk menzalimi rekan kerja atau saingan bisnis? Apakah di rumah hanya menjadi benalu bagi pasangan hidup, anak-anak, dan keluarga? Ataukah hobi kita mengganggu tetangga dengan ucapan kotor, perbuatan buruk, dan aneka makar lainnya? Apakah kita begitu aktif dalam proyek keburukan dan pasif bahkan mencegah orang-orang dari melakukan kebaikan?

2.MASA MUDA

Untuk apakah kita menghabiskan masa muda? Sibuk belanja dan mengikuti mode? Jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan nonton film/pertunjukan yang bercampur laki-laki dan perempuan dalam satu lokasi? Pacaran dengan dalih mencari semangat padahal sejatinya mengumpulkan dosa? Akrab dan tak berjarak dengan lawan jenis dengan dalih keniscayaan dan tuntutan kerja? Atau keburukan dan kesia-siaan lain yang dibungkus dengan dalih yang tidak berdasar?
Beruntung jika; masa muda optimal dalam menuntut ilmu akhirat dengan tidak melupakan ilmu dunia, rajin mendatangi majlis taklim dan orang-orang saleh, menjaga diri dari zina pacaran, tidak suka dengan ikhtilath dan kesia-siaan lain di pusat perbelanjaan, sibuk memperbaiki diri dengan beribadah wajib dan sunnah, menjaga diri dari segala jenis kesiaan-siaan, dosa, dan maksiat, serta amal saleh lain yang amat banyak manfaatnya di dunia dan akhirat.
Atau, kita berada di tengah-tengah sebab tidak memiliki konsep hidup yang jelas. Alhasil, pagi hari ibadah, siangnya sudah maksiat; siangnya shalat, sorenya nonton dengan pacar; sore berbuka puasa sunnah bareng pacar, malamnya ikut kajian. Dan lain sebagainya.

3.HARTA

Dua pertanyaan terkait harta; dari mana mendapatkannya, bagaimana memanfaatkannya.
Apakah harta kita diperoleh dengan cara menipu, mencuri, melakukan korupsi, menyuap banyak pihak atau cara-cara tercela lainnya? Ataukah kita mendapatkannya dengan cara yang tidak terhormat berupa mengemis, meminta-minta, melakukan pungutan liar, mengurangi timbangan, menipu dalam perniagaan, dan hal sejenis lainnya?
Maka yang terbaik adalah mendapatkan harta dengan cara yang baik, halal, dan berkah. Inilah harta yang bermanfaat di dunia dan akhirat, meskipun dalam banyak kasus; jumlahnya sedikit dan seringkali pas-pasan.
Setelah mendapatkannya, bagaimana memanfaatkannya?
Pertama, mendapatkan dengan cara buruk dan memanfaatkannya untuk keburukan. Bentuknya, mereka melakukan korupsi atau pencurian hak rakyat, kemudian menggunakannya untuk minum-minuman keras, zina, hura-hura, foya-foya, dan sejenisnya.
Kedua, mendapatkan dengan cara yang buruk, tapi memanfaatkannya untuk kebaikan. Ini seperti kisah seorang yang bersedekah dengan hasil curian. Dan, Allah Ta’ala tidak menerima kebaikan kecuali dengan cara dan sumber yang baik pula.
Ketiga, mendapatkan dengan cara yang baik dan menggunakannya untuk keburukan. Bisajadi, ia adalah seorang kuli yang bekerja dengan mengandalkan kekuatan fisiknya semata. Maka, harta halal yang didapatkannya itu habis untuk berjudi, ikut pesta minuman keras, atau kesia-siaan dan maksiat lainnya.
Keempat, mendapatkan dengan cara yang baik dan memanfaatkannya untuk kebaikan. Inilah orang yang beruntung. Mereka menjemput rezeki dengan cara yang baik dalam perniagaan atau bekerja kepada orang lain dengan memperhatikan segala jenis ketentuan syariat terkait harta, kemudian memanfaatkannya di jalan Allah Ta’ala dengan keihklasan terbaik. Alhasil, setiap rupiahnya menjadi tabungan kebaikan yang menyelamatkannya di akhirat kelak.

4. ILMU

Dari sekian banyak ilmu, apa saja yang diamalkan? Apakah ilmunya hanya koleksi, agar disebut dan dipuji sebagai orang yang berilmu, atau hanya untuk mendapatkan recehan duniawi dari ilmu yang didapatkannya dengan susah payah itu?
Ataukah ilmu itu diamalkan dengan baik sebagaimana diajarkan oleh Nabi dan generasi-generasi terbaik setelahnya; mengamalkan ilmu untuk kebaikan dan kesejahteraan orang lain; menggunakannya untuk memasifkan kebaikan; dan semakin mendekatkan diri dan orang-orang sekitarnya kepada Allah Ta’ala.

sumber : (kisahikmah)

Post a Comment