ads

ASTAGFIRULLAH...!!! Inilah Kisah Pemuda Yg Mencium Wanita yang Tidak Halal, Dia Didatangi oleh Nabi

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Mas’ud, datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kepada Nabi, ia mengaku telah mencium wanita yang tak halal baginya.



Tak langsung sampaikan jawab, Nabi menunggu wahyu dari Allah Ta’ala. Kira-kira, wahyu apakah yang diturunkan kepada laki-laki ini? Apakah hukuman yang pantas baginya?

Sebagaimana disebutkan oleh Dr. Muhammad ‘Ali Hasyimi dalam Membentuk Pribadi Muslim Ideal, Allah Ta’ala pun menurunkan firman-Nya dalam surat Hud [13] ayat 114,

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”

Lelaki itu pun bertanya kepada Nabi, “Adakah ketetapan itu khusus untukku?”
“Ketetapan itu,” jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “berlaku untuk seluruh umat Islam.”
Shalat adalah salah satu amalan untuk menghapus dosa yang dilakukan seorang hamba. Shalat lima waktu diibaratkan sungai bersih yang jernih di depan rumah yang digunakan untuk mandi. Kemudian jjika seseorang mandi di sungai itu sebanyak lima kali dalam sehari, mungkinkah masih ada kotoran yang melekat pada tubuhnya?

Dalam riwayat lain oleh Imam Muslim juga disebutkan, shalat lima waktu dan shalat Jum’at adalah penebus dosa seorang hamba selama ia tidak melakukan dosa-dosa besar.

Maka dalam kasus lelaki yang mencium wanita yang tak halal ini, Nabi memberikan solusi untuk melakukan banyak amal saleh yang dilambangkan dengan shalat. Selain itu, shalat juga menjadi salah satu bukti ketundukan, kesungguhan, dan komitmen seorang hamba kepada Rabbnya.

Hikmah lainnya adalah kebijaksanaan Nabi dalam menyelesaikan persoalan. Meski menyentuh lawan jenis saja sudah termasuk dosa, maka mencium adalah dosa lain dengan balasan yang tak ringan sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau lainnya.

Karenanya, standar prosedur pertaubatan seorang hamba tetaplah sama; sampaikan permohonan ampun kepada Allah Ta’ala, sesali dosa, perbanyak amal saleh, dan tunaikan hak orang yang dizalimi. Barulah tobat itu sempurna jika disertai dengan komitmen untuk tidak mengulanginya.

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari maksiat, sekecil apa pun. Aamiin. (kisahikmah)

Post a Comment